Rabu, 23 Maret 2016

Belajar Teguh di Jalan yang Benar


Mentari siang ini tidak begitu menyengat kulit kala aku sedang berkendara pulang kerumah dengan motor orangeku yang setia menemani perjalananku pulang pergi kos kampus rumah. Ya.. aku masih semester 6 disebuah universitas swasta di Ponorogo. Cuaca hari ini tidak begitu cerah juga tidak menandakan hujan akan turun. Hingga akhirnya setelah jam kuliah terakhir usai kuputuskan untuk pulang kerumah. Ntah kenapa, perjalanan pulang kerumah merupakan saat-saat yang paling aku tunggu-tunggu, Karena dalam perjalanan ada pemanandangan yang begitu indah dipandang mata. Sawah, pegunungan, bukit-bukit hijau, selalu ada semangat baru muncul saat melaluinya. Tiba-tiba angan-anganku membuyar seketika saat melintas disamingku sepasang cwok cwek berboncengan mesra, sudah dipastikan mereka bukan hanya sekedar teman, dapat dilihat dari cara cwek yang memeluk cwok didepannya.  Mengetahui hal itu rasanya biasa, kedua kalinya melintas pasangan lagi masih agak biasa, ketiga, keempat dan masih banyak lagi pasangan yang Salip sana sini, “aaaaarrggg…. Hanya aku kah yang masih sendiri??” gumamku. Sungguh kebiasaan yang sulit dihilangkan yaitu mulai ngoceh dijalanan sendiri. “untung pake masker hihihi” pikirku.
Sesampainya dirumah, seperti biasa selalu tidak ada orang, orang tua ku sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun begitu aku mengerti bahwa mereka tetap menyanyangiku dan berusaha meluangkan waktu untuk saling bercerita. Kunci rumah segeraku ambil dalam tas ransel warna toska kesukaanku. Tempat yang pertama kali menjadi tujuanku adalah kamar. Ya, sudut favorit dirumah ini hanyalah kamarku, dengan kamar yang tidak terlalu luas dengan cat tembok warna peach dan toska inilah aku banyak menghabiska waktu ketika aku pulang kerumah. Saat kurebahkan tubuh ini, aku melihat ke sisi meja belajar dan mataku tertuju pada Al Quran warna hijau yang kumiliki. Aku seketika bangun dan beranjak duduk dikursi belajarku, “Astagfirullah.. sudah beberapa minggu terakhir aku tidak membacanya, maafkan aku ya Allah.”  Suaraku terdengar lirih. Segera aku mengambil air wudlu untuk salat asar yang azannya telah berkumandang saat aku hampir tiba dirumah tadi. Setelah salat asar aku niatkan untuk kembali menjalankan rutinitasku yang sudah beberapa minggu terakhir telah kutinggalkan yaitu membaca Al Quran.  Aku sengaja membacanya lumayan keras, ya agar bisa terdengan hingga sudut rumah, sekiranya untuk membuat suasana rumah ini tidak begitu sepi.
Usai membaca Al Quran, pandanganku tertuju pada tulisan dibelakang pintu kamar yang isinya, “Fa.. nggak boleh punya pacar!”. Konyol memang, tapi sudah satu tahun lebih aku menempelnya disana setelah aku putus dengan mantan pacarku yg terakhir. Tujuannya agar aku bisa lebih menata hati, lebih berhati-hati terhadap gombalan laki-laki agar prinsipku tidak goyah yaitu JOSS (Jomblo Sampai Sah). Mungkin mengetahui kalimat tersebut banyak orang geli membacanya dan bahkan berpikir itu terlalu berlebihan, terlalu alay, atau yaa tau sendirilah pikiran dari kebanyakan orang. Tapi yang jelas untuk saat ini aku memilih untuk sendiri, walaupun banyak orang disekitarku yg membully akan kesendirianku. Aku memiliki masa lalu yang cukup sia-sia, hidupku, masa remajaku habis untuk ku habiskan hanya untuk memikirkan tentang pacar. Aku malu ketika ada teman yang bertanya, “Fa, berapa mantan pacar mu?”. Kebanyakan dari mereka yang bertanya demikian aku hanya menjawab dengan senyuman dan mengalihkan perhatiannya. Karna sungguh aku sedih, kecewa, aku bahkan tidak ingin menghitung dan mengingat masa lalu itu lagi. bukan sedih karena kehilangan pacar atau kecewa karna dikhianati dsb. Tetapi lebih pada waktu yang tidak akan kembali. Maafkan hambamu ini ya Robb.. aku pernah menyelingkuhi mu, aku pernah menyia-nyiakan waktuku dengan seseorang yang belum tentu menjadi jodohku yang telah kau tuliskan di Lauhul Mahfuz untukku.
Di usia yang tidak bisa dibilang remaja lagi ini, aku memutuskan untuk benar-benar memperbaiki diriku. Salah satunya dengan tidak melanggar larangan-Nya yaitu pacaran. Sebenarnya aku telah mengetahuinya sejak lama kalau pacaran itu tidak diajarkan dalam islam. Bahka pacaran itu banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Tapi ntah setan mana yang meracuni pikiranku, aku pernah terperangkap didalamnya. Serasa ingin ku hantamkan kepala ini hingga hilang ingatan agar aku tidak lagi ingat akan dosa-dosaku selama ini karna pernah melanggar larangan-Nya dan kembali pada diriku yang fitri. Heeeyy… tapi aku tidak senekat itu hihihi.
Pernah ku membaca sebuah kalimar dari artikel internet yang isinya “semua orang pernah memiliki masa lalu, ntah itu baik atau buruk. Yang jelas mereka sudah tidak tinggal didalamnya”. Kelimat tersebutlah yang selalu memberiku kekuatan, semangat untuk lebih meneguhkan prinsipku dalam memantasakan diri untuk calon imamku kelak. Karna aku yakin pada firman-Nya, “laki-laki baik-baik untuk perempuan baik-baik, perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik begitupula sebaliknya”. Tapi kenyatannya, tidak mudah belajar teguh dijalan yang benar. Selalu saja ada godaan silih berganti, ntah itu datang dari seorang teman yang menyatakan perasaannya, seorang mantan yang tiba-tiba minta balikan, atau bahkan teman-teman yang membully karna kesendirianku dan menjodoh-jodohkan ku dengan orang lain. Tapi bagiku, itu semua dalah bagian dari perjuangan. Rasanya, kalau aku tergoda dan ingin punya pacar lagi, aku selalu berpikir bahwa aku sangatlah merugi. Kebaikan dan ibadah yang aku lakukan tidak aka nada artinya. Kalau aku juga masih melakukan dosa yang Allah larang.